Senyum Terakhir di Usiaku
Dalam hidupku aku ingin sekali membahagiakan keluargaku, ibuku, dan dua orang laki laki yang selalu menjadi tombak dari semangatku. Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat kedua orangtuaku bersedih, dan memelukku dengan erat. Saat dokter memvonisku mengindap penyakit kelenjar getah bening berstatus aktif. Dan harus menjalani perawatan selama beberapa bulan, aku pun sangat terpukul mendengar hal itu, tapi aku berusaha kuat dan tegar di depan kedua orangtuaku.
Saat aku ingin meminum obat, ayahku memandangiku dikejauhan “cepet sembuh anakku, kamu yang kuat yah.” kata ayahku dengan mata yang berkaca kaca.
Aku yang baru pertama kali mendengar permintaan ayah yang begitu dalam langsung meminum obat itu sambil berderai airmata karena tak kuasa menahan haru itu.
Aku sangat sedih dan terpukul dengan kenyataan itu, aku yang baru lulus Sekolah Menengah Kejurusan yang seharusnya bekerja membantu kedua orangtuaku, kini hanya bisa berdiam diri di rumah dan berbaring di tempat tidur, sesekali aku ke luar kamar dan kulihat ibuku yang sedang sibuk di dapur, Tuhan aku tak kuasa melihat semuanya, biasanya aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, membantu ibu dan ayah, ijinkan aku untuk sehat kembali dan membuat mereka bahagia.
Setiap minggunya aku selalu melakukan cek up ke rumah sakit dengan ditemani ayah, berangsur angsur kondisiku membaik.
“berdasarkan pemerikasaan kondisi kamu mulai membaik ya mawar,” kata dokter Nirwan spesialis bedah
“alhamdulillah” sambung ayahku
“beruntung jenis penyakit kamu ini langsung diketahui dan diatasi, karena kalau tidak virus yang ada di kelenjar kamu itu bisa menjalar ke organ tubuh lainnya bahkan bisa saja menimbulkan tumor otak..” lanjut dokter Nirwan
“memangnya separah itu ya dok, tapi bagaimana kalau saya sudah merasa membaik, dan berhenti menjalani pengobatan dok?” tanyaku pada dokter Nirwan
“penyakit kamu ini, tidak bisa diprediksikan kapan akan sembuh totalnya, mungkin kamu mersasa membaik, tapi kamu tidak tahu kan apa virus yang ada di tubuh kamu itu sudah mati atau terangkat semuanya.” kata dokter Nirwan, “saya sarankan kamu ikuti prosedur yang berlaku, sayanglah pada kesehatan kamu sendiri, karena kalaupun kamu paksakan, penyakit kamu bisa saja beberapa tahun kedepan bisa kambuh, bahkan lebih parah.” lanjut dokter Nirwan menjelaskan dengan tegas.
“alhamdulilah nak, kondisi kamu mulai membaik” kata ayah dengan wajah yang sediki lega.
Malam hari sebelum beranjak tidur tak sengaja aku mendengar percakapan ibu dan ayah yang baru pulang berdagang.
“baru pulang yah, kok mukanya lesu sekali.” kata ibu
“iya bu, hari ini sepi, dan badan ayah rasanya pada pegel pegel.” kata ayah
“sabar yah, namanya juga jualan pasti kadang rame kadang sepi.” kata ibu dengan lembut.
“iyah, besok jadwalnya mawar cek up lagi ya bu.” tanya ayah
“iya besok jadwal cek up mawar, besok juga dia harus melakukan rontgen yang ke 2.” kata ibu.
“Ya tuhan aku tak kuasa mendengar semua itu, aku tak kuasa melihat kedua orangtuaku susah” dalam hatiku berteriak menangis.
Keesokan harinya saat di rumah sakit, aku dapati wajah ayah yang begitu lelah, tapi dia selalu memberikan senyumnya untukku, saat menebus obat, tak kuasa aku menahan airmataku, aku tahu apa yang terjadi tapi aku tak bisa berbuat apapun untuk kedua orangtuaku. hasil lab menunjukkan bahwa kondisiku semakin stabil, aku yang merasa sudah membaik memutuskan untuk tidak berobat kembali, dan aku siap menanggung resikonya di masa akan datang.
Sesampainya di rumah, aku pun mencoba bicara pada ayah dan ibu,
“ayah ibu mawar ijin pergi ke rumah bude ya, mawar Bosen di rumah terus, mawar pengen refreshing, mawar janji obatnya pasti mawar minum, dan gak lupa pulang untuk cek up.
“tapi kan kamu baru mendingan mawar.” kata ibu
“gak papa ko bu, mawar udah merasa membaik, lihat badan mawar makin besar kan, uda gak kurus lagi.” kataku meyakinkan ibu
“ya udah, kalau emang kamu maunya begitu, tapi satu pesan ayah, jaga kesehatan kamu ya nak, jangan pernah nyerah sama apapun itu, kejar cita cita kamu ya nak, ayah tau kamu kesana ingin bekerja kan, bukan untuk refresing.” kata ayah menebak maksudku
Aku terdiam, dan tak bersuara aku hanya berkata dalam hati.
“AKU HANYA TIDAK INGIN MELIHAT KALIAN SEDIH, KARENA AKU INGIN BAHAGIAKAN KALIAN.”
“aku pamit ya ayah.” kataku mengalihkan pembicaraan, dan aku pun berangkat dengan restu mereka.
Sesampainya di rumah budeku, aku disambut dengan hangat oleh keluarga budeku, aku bilang padanya bahwa aku ingin tinggal bersama mereka, bekerja disana dan melanjutkan studyku.
Mereka pun menerima keputusanku, begitupun dengan yang lainnya, seminggu disana aku mendapatkan pekerjaan sebagai Sales Promotion Grils di salah satu mall ternama di Jakarta, disanalah aku mulai berkarir memulai kehidupanku yang baru, dan sedikit demi sedikit menabung untuk melanjutkan kuliah. Disana pula lah aku dipertemukan dengan seseorang yang membuatku lebih semangat menjalani hidupku, membuat pipi ini tak berhenti melempar senyum.
Hari demi hari aku lewati dengan keteguhan hati, dan setulus jiwa, tiga tahun sudah kulewati, walau aku tau semuanya terasa sangat jauh melelahkan, dimana aku harus membagi waktuku untuk bekerja, kuliah, dan membantu keluargaku.
Semua rasa lelah itu aku tepis karena aku selalu mengingat perjuangan ayahku, dia yang berjuang untuk menafkahi aku ibu dan adikku, tapi tak pernah mengeluh, dia yang selalu bersemangat walau kadang hujan membasahi tubuhnya dan terik matahari yang membakar tubuhnya.
Semua waktu ku habiskan untuk bekerja, kuliah, sampai sampai aku mengabaikan orang yang selama ini selalu membuatku tersenyum, hubunganku kandas di tengah jalan karena dia merasa terabaikan olehku, padahal tak ada niat sedikitpun untuk melukai hatinya. Pikiranku pun kacau, aku seperti kehilangan separuh jiwaku, dan semangatku, tapi aku berusaha untuk menerjangnya, aku lakukan aktifitas sesibuk mungkin agar aku tak ingat padanya, hingga aku tak memikirkan kondisi kesehatanku.
Semenjak itu kondisi ku mulai menurun, demam berkepanjangan itu pun datang lagi, tubuhku lemas.
Aku beranikan diri untuk peiksa ke sebuah klinik, tanpa melakukan laboratorium, dokter memvonis bahwa aku terkena virus yang telah menjalar ke otak, atau sekarang bisa disebut dengan radang otak.
“sudah berapa lama kamu merasakan pusing pusing, dan demam berkepanjangan ini.” Tanya dokter Tanya padaku
“sekitar satu bulan yang lalu dok, tapi kalau demam sepertinya sudah agak lama, dan akhir akhir disaat siang hari saya juga merasakan demam itu.” kataku member penjelasan
“siang hari?, memangnya biasanya kamu rasakan demam itu hanya pada malam hari saja?” Tanya dokter
“iiya dok” jawabku lemas.
“mawar, kamu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, maka kalau tidak, virus itu akan berubah menjadi sebuah tumor di otak kamu.” kata dokter Tanya
Sepintas aku ingat kata kata dokter Nirwan, aku pun hanya pasrah mendengar semua itu, dan pergi meninggalkan ruangan dokter Tanya.
Aku pulang ke rumah ayah dan ibu, untuk melepas rasa rinduku pada mereka.
“mawar kamu tumben pulang jam segini, biasanya malam kamu baru pulang.” kata ibu menyambutku
Kulihat ayah dan ibuku yang tersenyum melihat aku pulang. tubuhku lemas, hatiku hancur, belum sempat aku bahagiakan mereka, tapi usiaku entah berapa lama lagi aku akan bertahan.
Aku peluk ibuku, aku tidur di pangkuannya
“ibu, maafin mawar yah, karena selama ini mawar bikin ibu dan ayah susah terus. Bahkan belum pernah mawar bikin ibu dan ayah bahagia” kataku sambil menahan air mata
“mawar, itu semua sudah kewajiban ibu dan ayah untuk selalu menjaga kamu, sampai nanti kamu menikah.” kata ibu sambil membelai rambutku
Menikah? Oh tuhan sampaikah usiaku pada gerbang pernikahan, dalam hatiku sambil menangis.
Aku pun terlelap dalam pangkuan ibu, dan saat aku terbangun aku sudah berada di kamar tempat tidurku
“siapa yang bawa aku ke kamar bu,” Tanya ku pada ibu heran
“ayah nak” kata ayah ku
“loh ayah masih kuat gendong aku, aku kan uda besar.” kataku heran
“mau kamu sudah besar atau masih kecil, bagi ayah kamu tetap putri kecil ayah yang harus selalu ayah jaga.” kata ayah
Aku pun tak kuasa menahan tangis, sungguh beruntungnya diriku memiliki ayah seperti dia, yang sayang terhadap keluarganya, dan berjuang untuk anak anaknya.
Aku pun pergi, bermain ke sebuah mall yang aku sendiri belum pernah injakkan kaki di mall tersebut, saat aku sedang duduk di sebuah café, tiba tiba ada Reihan mantan kekasihku itu.
“mawar?” sapa dia
“rei.” jawabku lemas
“kamu apa kabar?” Tanya reihan padaku lmbut
“aku baik rei, kamu?” tanyaku balik
“aku baik, kesini sama siapa? Kok tumben mainnya jauh jauh.” Tanya reihan
Aku hanya tersenyum dan balik Tanya “kamu sendiri kesini sama siapa.” tanya ku
“aku sekarang bekerja di daerah mall sini, ini mau pulang terus aku lihat kamu deh, kamu kurusan yah, pucet lagi, kamu sakit?” Tanya reihan seakan masih menunjukkan perhatiannya
Aku hanya tersenyum tipis sambil berkata. “aku ga apa apa.” Jawabku, sebuah jawaban yang selalu kuberi saat dia beranya kepadaku tentang apa yang kurasa.
“kamu gak berubah, selalu bilang gak apa apa.” kata reihan
Tubuhku lemas, aku tak bisa mendengar jelas suara reihan, semakin lama semakin redup dan semua terasa gelap.
Saat tersadar aku sudah ada di rumah sakit, dan kulihat reihan dengan wajah yang murung.
“kamu kok disini, aku kenapa?” Tanya ku pada reihan
“kamu kenapa? kamu pingsan di café tadi, dan kamu masih sempet sempetnya sembunyiin penyakit kamu yang parah itu.” kata reihan dengan nada kencang.
Aku hanya terdiam, dan kucoba untuk berkata. “memangnya kamu bisa apa saat tau aku sakit?” Tanya ku pada reihan
“keluarga kamu sudah aku kabari sebentar lagi mereka sampai, kamu jaga baik baik kesehatan kamu war.” kata reihan
“mawar.” suara ibuku memanggilku dan memelukku dengan erat.
Aku lihat di depan pintu ayah ku yang sedang menangis, “tuhan aku gagal buat mereka bahagia, maafkan aku”, dalam hatiku sambil menangis.
“mawar, kamu harus segea di operasi untuk mengeluarjan virus yang ada di otak kamu agar tidak menjadi sebuah tumor atau kanker.” kata kak rima sepupuku.
“aku tidak mau, biarkan takdir semua yang menjawab, biarkan aku tenang, menikmati sakitku ini, aku tak ingin menyusahkan ibu dan ayah lagi, apalagi ini salahku yang tak jaga kesehatanku.” kataku, dan ku keluarkan sebuah tabunganku selama aku bekerja, walau tak seberapa ku berikan untuk ayah dan ibuku, “ibu ayah ini mawar ada sedikit simpenan, mawar ngumpulin selama mawar kerja, semoga bisa membantu kondisi ekonomi kita, jangan pedulikan sakit mawar, mawar masih kuat”. kataku lemas.
Ayah dan ibuku hanya bisa menangis, begitu juga dengan keluarga yang lain, entah kenapa air mataku tak bisa lagi menetes, mungkin karena seringnya menetes, aku coba untuk menenangkan diriku, saat aku tidur tak sengaja aku masih mendengar suara ayahku, dan ku coba untuk membuka mata sedikit, kulihat ayahku yang sedang berdoa bersujud demi kesembuhanku, aku senang aku bahagia ada perasaan nyaman di hatiku.
“ya rabb, selama ini aku jauh darimu, hati ini aku mohon padamu untuk meminta kepadamu sembuhkan penyakit anakku ya rabb, angkatlah penyakitnya, jangan kau tambahi beban dan cobaannya ya rabb, dia masih usia belia dan terlalu muda untuk mendapatkan cobaan sebesar ini, kata ayahku dalam doanya.
Tiba tiba reihan datang mengajakku jalan jalan keluar.
“mawar, kita keluar yu sebentar aja, aku udah ijin sama ibu ayah kamu kok, sama dokter juga kalau hari ini kamu boleh keluar, dan gak boleh ada alasan lagi kamu nolak ajakan aku. Oke.” kata reihan dengan semangat.
Aku pun menerima ajakan reihan untuk pergi, lagi pula ini adalah suatu hal yang kuinginkan dari dulu ingin pergi berama orang yang kucintai.
“mawar, kamu tau gak dari dulu sampai sekarang perasaan aku gak berubah ke kamu, aku sayang kamu war.” kata reihan
Aku pun tersenyum padanya, dan bersandar di bahunya sambil memejamkan mata, dan ku ucap terima kasih tuhan atas kesempatan yang kau berikan di sisa terakhir usiaku.
Cerpen Karangan: Iis Ismawati Nurhasanah
Facebook: Iisismawati68[-at-]yahoo.co.id
